Berita Terbaru

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

 

            REVITALISASI JEJAK SANTRI DI ERA GLOBALISASI

Oleh : Drs. H. Moh. Sa’id Muslim, M.Pd.I

 

 

A.  PENDAHULUAN

 

Berbicara santri tidak bisa lepas dari pondok pesantren, karena santri merupakan elemen pokok dalam istilah nama pesantren. Kemudian berbicara pondok pesantren tidak bisa lepas dari perkembangan agama Islam di Indonesia. Kegiatan belajar mengajar ( ngaji ) yang berlangsung  secara informal, baik yang dilaksanakan di rumah, surau ( langgar ), musholla, maupun masjid adalah suatu bentuk evolusi bagi terbentuknya pondok pesantren. Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan agama Islam tertua di Indonesia. Tidak jelas kapan mulai berdirinya pondok pesantren. Namun perlu diketahui, bahwa pada abad XVII ( 1619 ) di Jawa ( Gresik ) sudah ada pondok pesantren yang didirikan oleh Sunan Malik Ibrahim sebagai lembaga untuk untuk melaksanakan kegiatan  pembelajaran ( ngaji ) dan serangkaian kegiatan ibadah ritual.

 

Dalam perkembangannya, pondok pesantren disinyalir oleh kolonial Belanda sebagai lembaga yang akan mengancam penyebaran misi kristenisasi dan akan merongrong wibawa kolonialnya. Sehingga pada akhir abad  XIX, Belanda mulai memperkenalkan system pendidikan klasikal untuk memperluas pengaruh pemerintah kolonialnya dan menandingi serta membendung pengaruh pesantren. Karena itu pesantren selalu waspada terhadap politik etis Belanda.

 

Sebagai konskwensi logis bagi suatu proses pengembangan agama Islam, pesantren dalam perjalanannya mengalamim pembenahan dan penyesuaian  yang mengarah kepada bentuk yang lebih efektif dan effesien. Pembenahan dengan penambahan system pendidikan tersebut baru terjadi pada permulaan abad XX, yaitu dengan memperkrnalkan system klasikal yang disebut madrasah .

 

Pesantren dan madrasah – baik yang mengajarkan khusus pelajaran agama (diniyyah), maupun yang melengkapi diri dengan pelajaran umum, telah muncul sebagai wujud lembaga agama yang sangat potensial untuk menumbuh-kembangkan  ajaran agama yang sangat komprehensif. Pesantren  sebagai lembaga tafaqquh fiddin dan madrasah sebagai wujud pengembangan pesantren, sama-sama menitik beratkan pada pendidikan agama Islam, terutama menyangkut aspek akidah, syari’ah dan akhlak tasawuf.

 

Di era modernisasi yang ditunjang dengan kondisi global ( globalisasi ) dan derasnya arus informasi ditambah semakin transparannya nilai agama dan budaya, banyak lembaga pendidikan mengalami perubahan yang mendasar, bukan hanya pada masalah silabi dengan literatur yang baru, namun wawasan dan orientasi juga turut berubah. Hegemoni social-politik juga telah memperlancar pergeseran nuansa lembaga pendidikan dan semua peserta didiknya.

 

Bagaimana  pondok pesantren dengan nilai-nilai santri yang dikembangkan di pondok pesantren yang berfungsi sebagai tafaqquh fiddin dan pembentukan karakter santri  ? Jawaban dari pertanyaan inilah merupakan dasar untuk mengukur/mengetahui Revitalisasi jejak santri di era globalisasi.

 

Untuk mencari jawaban diatas, kita harus melacak dan menelusuri eksistensi pesantren dan pola kehidupan santri di pondok pesantren (ditengah-tengah perubahan nilai) di era globalisasi ini.

 

B.   PONDOK PESANTREN

 

Pondok pesantren sebagai lembaga tafaqquh fiddin ( upaya memperdalam agama ), juga lembaga tarbiyah adalah sebuah lembaga yang mengandung lima unsur  sebagai satu system yang tak boleh kurang satupun, yaitu :

1        Adanya pemondokan ( asrama )

2.      Masjid

3.      Pengajian kitab kuning

4.      Santri dan

5.      Kyai.

 

Dengan lima unsur diatas, santri didalam belajar ( mengaji ) bisa utuh dan penuh ( full day ) karena mereka ada didalam pondok, bisa terpenuhi kegiatan ibadah dan kebutuhan spiritualnya karena ada masjid didalamnya, bisa mengkaji berbagai ilmu agama secara tahqiq dan yakin karena belajar ilmu agama dari sumber aslinya yaitu kitab kuning, dan langsung bisa memperoleh pengalaman langsung dan suri tauladan dari kyainya. Kyai dalam system ini bertindak sebagai pengajar, pendidik dan pengasuh, dan sekaligus sebagai suri tauladan (panutan) bagi kehidupan sosial-keagamaan santri.Lima unsur tersebut menjadi ruh daripada pesantren.

 

Dari lima unsur tersebut ditambah dengan keihlasan para kyai, pesantren telah mampu mencetak banyak kader  ( mutakharrijin ) yang tangguh, kader yang memiliki  kepekaan (kepedulian) social yang sangat tinggi dan rasa tanggung jawab ( sense of responcibility ) yang besar. Prestasi lain yang dimiliki oleh pesantren adalah munculnya alumni (mutakharrijin) yang mendapat legitimasi dari masyarakat sebagai panutan umat, ‘ulama’ maupun kyai. 

 

Pesantren dalam  konteks ini masih bernuansa salafy dan tradisional, yang dalam proses belajarnya menggunakan sistim sorogan, wetonan dan kilatan. Juga dengan fasilitas yang sederhana , hanya dengan duduk lesehan memakai damper  (meja yang pendek) tanpa menggunakan kursi. Maksimal sampai dengan system klasikal yang dilaksanakan pada program madrasah.

 

Pesantren adalah mempunyai pola pendidikan dan pengajaran yang khusus ( spesifik ) dan mandiri. Sehingga ia tidak diombang-ambingkan perubahan kurikulum dan silabus serta system pendidikan yang berkembang. Sistem pendidikan yang ditempuh memang menunjukkan sifat dan bentuk yang lain dari pola pendidikan formal. Meskipun pesantren menempuh pola penyelenggaraan yang berbeda , ia tetap merupakan suatu lembaga pendidikan yang mendukung dan menyokong program pendidikan pemerintah, karena secara inhern ia pesantren telah menampakkan integrasi yang partisipatif terhadap pendidikan nasional. Sebagaimana dijelaskan dalam GBHN , bahwa pendidikan nasional bertujuan meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, ketrampilan, budi pekerti luhur dan akhlak yang mulia.

 

C.   SPESIFIKASI PONDOK PESANTREN

     

      Spesifikasi pesantren sebagai lembaga keagamaan, mempnyai fungsi antara lain :

     

1.      Sebagai lembaga tafaqquh fiddin

2.      Sebaai lembaga tarbiyah ( pendidikan )

3.      Sebagai lembaga social

4.      Sebagai gerakan kebudayaan dan bahkan

5.      sebagai kekuatan politik – meskipun predikat tradisional masih melekat pada dirinya.

 

Spesifikasi pesanren sebagai lembaga pendidikan tradisional ( salafy ) dapat dilihat dari berbagai criteria yang ada, antara lain :

 

1.      Landasan Filosofis.

      Landasan filosofis pesanren adalah teologis dan religiuitas yang berposisi substansal dan bersifat integral. Sedangkan pada lembaga pendidikan umum cenderung pragmatisme dan orientasi pasar ( keduniawian ), sementara teologi dan religiuitas diposisikan sebagai instrumental dan segmental.

 

2.      Kitab kuning

       Kitab kuning sebagai bagian dari unsur pesantren adalah merupakan cirri khusus bagi pesantren yang tidak terdapat pada lembaga pendidikan umum, dan sebagai mata pelajaran baku. Kitab kuning adalah kitab-kita salaf ( klasik ) yang masih tercetak dengan bahasa arab, baik dengan bentuk kurasan maupun jilidan dan terintroduksi secara popler dengan nama kitab kuning – karena kertasnya memang kuning, walaupun sekarang sudah banyak dicetak ulang dengan kertas putih.

      

       Kriteria khusus kitab kuning adalah sebagai berikut :

Ø Sistematika penyusunan

     Susunan penulisan kitab kuning tidak menggunakan tanda baca : seperti titik, koma, tanda tanya, tanda seru dll.

Ø Penggunaan idiom ( istilah ) dan rumus-rumus tertentu.

     Dalam kitab fiqh sering ditemukan istilah-istila khusus, seperti al-madzhab, al rojih, al adzhar, dll, singkatan nama pengarang, misal   مر. رم.ش dll

Ø Proses pengajarannya

    Untuk mengajarkan kitab kuning biasanya ustadz / kyai membacakan dengan mengunakan istilah  utawi untuk menunjukkan tarkib mubtada’, iku untuk menunjukkan tarkib khobar, ing untuk menunjukan tarkib maf’ul bih dll  dan dengan cara penulisan  idiom yang khusus juga, misalnya utawi ditandai dengan huruf م, iku ditandai dengan huruf خ ing ditandai dengan huruf مف dll.

    Kemudian ustadz/kyai  memberikan makna dan para sanri menulismaknatersebut yang popular dengan istilah ngesahi ( kitab ). Selanjutnya ustadz  menerangkan maksud dari susunan kalimah yang dibacanya dengan analisis dari yang  bersifat mantuhuqot sampai yang mafhumat

Ø Adanya sanad

     Bahwa seorang kyai yang mengajarkan suatu kitab adalah menyesuaikan dengan gurunya, baik dari segi tarkib, makna maupun keterangan. Hal ini terus bersambung dari gurunya ke gurunya lagi sampai kepada pengarangnya ( muallif ). Kriteria yang terakhir inilah yang bisa menjamin .kemurnian suatu ajaran ( syariat Islam ), yang kalau dilacak sampai juga kepada para sahabat nabi dan nabi Muhammad SAW.

 

3.     Orientasi dan Visi

     Orientasi pesanren adalah melaksanakan semua kegitan – ta’lim dan t’allum – hanya dengan niat ibadah. Sedangkan tujuannya adalah untuk menjadi hamba Allah yang sholih, tidak mempunyai ambisi dan obsesi lain.

  Adapun visi pesanren tercermin pada pola pendidikan yang mengacu pada pembentukan moral dan akhlak yang mulia ( karimah ). Seluruh proses pembelajaran santri bermuara pada pengenalan, pengakuan, kesadaran dan keagungan Allah SWT. Dan disempurnakan dengan akhlak karimah yang terkait secara dialektif dan kohesif dengan mekanisme belajar santri.

 

D.   REVITALISASI JEJAK SANTRI DI ERA GLOBALISASI

 

Era globalisasi adalah era dimana masyarakat (baca: santri) menjadi menyatu. Tidak ada sekat atau batasan yang memisah antara masyarakat yang berada di satu tempat dengan masyarakat yang berada di tempat yang lain. Mereka terasa dekat dan menyatu. Sehingga berbagai peristiwa, budaya, fenomena alam, dan berbagai macam prilaku suatu masyarakat akan diketahui dan bahkan bisa dirasakan oleh masyarakat lain, meskipun dipisah dengan benua. Globalisasi ini ditandai dengan berbagai indikator. Paling tidak terdapat dua indikator yang menjadikan suatu kondisi menjadi global, yaitu kecanggihan teknologi informasi dan berkembangnya transportasi.

 

Dengan kecanggihan teknologi informasi, masyarakat-- termasuk didalamnya adalah santri, bisa mengakses segala macam informasi, kapan saja dimana saja.Semua informasi bisa masuk meskipun berada pada kamar tertutup dan terknci.

Karena itu pada diri masyarakat selalu terdapat tawaran pengetahuan, idiologi bahkan sebuah akidah akibat informasi yang masuk dan diterima. Tawar-menawar juga terjadi pada masalah budaya, etika dan estetika.

 

Bagi masyarakat yang sudah menemukan jati dirinya, mempunyai dasar pijakan yang kuat, dan memiliki kimanan yang mantap, mereka tidak akan terpengaruh budaya asing yang masuk lewat informasi. Bahkan ilmu dan wawasan yang mereka miliki bisa menjadi filter masuknya budaya asing yang cenderung bertentangan dengan budaya Islam.

Namun bagi masyarakat yang kurang ilmu agama dan wawasan , mereka akan senantiasa tercabik-cabik kepribadiannya.Pemahaman terhadap  agama yang dangkal dan krisisnya keteladanan, akan menambah lancarnya perubahan idiologi mereka. Pemahaman pragmatisme yakni, bahwa yang benar adalah aktifitas ( amal ) yang membawa hasil langsung bisa dinikmati didunia ini. Pemahaman seperti ini akan membawa masyaakat untuk tidak mau berjuang, beribadah dan berkhidmah. Karena hal tersebut tidak ada hasil yang langsung  ( bayaran ) dinikmati.

Demikian juga masalah budaya dan etika, mereka lebih dekat dengan budaya dan etika yang tidak islamy. Mereka setiap hari disuguhi berbagai bentuk pemandangan dan prilaku yang mempertontonkan kemaksiatan, perkosaan, kerakusan, perselingkuhan dan kedhaliman-kedhaliman lain. Tanpa sengaja mereka telah larut dalam budaya hina dan murahan tersebut. Lebih tragisnya, mereka melegitimasi bahwa hal itu sudah biasa dan dianggap benar, sehingga mereka melakukan hal tersebut tidak merasa bersalah dan tidak merasa berdosa.  Masyarakat seperti inilah yang menjadi tumbal dari kemajuan tehnologi informasi dan transportasi yang telah menjadikan jamannya menjadi era globalisasi dan transformasi.

 

Masyarakat sanri—tentunya santri yang mempunyai integritas tinggi, tidak sama dan tidak seburuk nasibnya dengan masyarakat yang menjadi tumbal kemajuan jaman.

Pondok pesantren dengan segenap komponennya akan tetap eksis dengan idiologi, sikap, dan kepribadiannya, jika format pesantrennya masih  memiliki spesifikasi sebagaimana disinggung di atas. Format pesanren seperti diatas – dengan santrinya, akan sangat mungkin untuk mempertahankan citra pesantren sebagai benteng terakhir untuk membendung pengaruh sekulerisme, pragmatisme dan hedonisme, karena nilai ikhlas ubudiyahnya dan visi moralnya sangat jelas.

Oleh karena itu santri harus tetap berpijak pada warisan-warisan leluhurnya yaitu para kyai. Warisan leluhur yang telah menjadi jejak (lelakon: jawa) yang dahulu ditempuh dan dijalankan para kyai, ketika masih menjadi santri,  harus ikuti dan dipertahankan agar bisa menjadi masyarakat yang tangguh, menemukan jati dirinya, mempunyai dasar pijakan yang kuat, dan memiliki kimanan yang mantap, yang pada ahirnya tidak akan terpengaruh budaya asing yang masuk lewat informasi di era globalisasi ini.

 

Oleh karena itu, santri sebagai cikal bakal kyai hendaknya menempatkan kyai sebagai panutan dan sentral figure. Berbagai pengalaman dan kenyataan bahwa pola pikir, pola hidup, dan pola sikap santri dalam kehidupannya dimasyarakat adalah merupakan rekaman dari pola kehidupan kyainya. Dalam pengajawantahannya , seorang kyai akan memberikan berbagai wadzifah (amalan tertentu) dan berbagai macam tugas untuk membentuk keilmuan dan karakter santri. Berbagai pengalaman spiritual dan ragam amalan ikhtiyar untuk memperoleh ilmu yang manfaat dan barokah diberikan kepada santri. Termsuk juga ilmu-ilmu dan amalan-amalan yang bisa menjadikan santri tetap kukuh dan kokoh dalam hidup di masyarakat nantinya.

Maqalah dari sebagian ulama’ berikut ini, akan memberikan motivasi dan inspirasi bagi santri dalam berikhtiar untuk meraih cita-cita mulia, yaitu sebagai ulama-shalihin :

 

ان كنتم تريدون ان تكونوا من العلماء السّلف فسيروا كسيرهم فى بدايتهم لا فى نهايتهم

 

“ Jika kamu semua ingin menjadi orang yang berhasil  (sebagaimana) ulam’ salaf, maka berjalanlah ( berusahalah ) sebagaimana mereka berjalan (berusaha) pada saat belajar / nyantri bukan pada saat mereka telah menjadi ulama’ (kyai) “

 

Seorang kyai tentunya memiliki segudang ilmu dan pengalaman , dan sejuta amalan dan wadzifah (amalan tetap) yang dilakukan pada saat masih menjadi santri yang selanjutnya ingin diteruskan dan diamalkan juga oleh para santri agar bisa berhasil dalam memperoleh ilmu yang manfaat dan barokah.

 Nilai-nilai karakter santri yang menjadi wadzifah (amalan tetap), yang telah  dilakukan oleh para kyai dan santri salaf  adalah sebagai sebagai jejak pendahulu yang harus diteruskan oleh para santri sekarang ini. Nilai-nilai karakter santri tersebut antara lain adalah sebagai berikut :

 

1.      Riyadlah, yang mencakup :

a.      Riyadlah al-nabs, yaitu melatih hawa nafsu dengan membiasakan puasa pada setiap hari senin dan kamis, membiasakan makan seadanya dan secukupnya, tidur dengan waktu dan fasilitas terbatas, berpola hidup bersahaja dan berpakaian sederhana,  mendawamkan wudlu (selalu dalam keadaan suci), berjamaah secara istiqamah, melakukan shalat-shalat Sunnah dan dzikir dengan rutin, dan menjauhi segala bentuk kegiatan yang mengarah pada pemenuhan hawa nafsu. Dan termasuk katagori riyadlah yang wajib adalah mentaati semua tata tertib pondok.

Santri yang mau riyadlah diakhir masanya akan meniliki kelebihan kemampuan atau akan memperoleh ilmu hikmah. Ilmu yang tidak bisa diperoleh lewat belajar dan menggunakan akal fikiran, tetapi bisa diperoleh dengan melatih dan menekan hawa nafsu untuk membersihkan jiwa.

 

b.      Riyadlah al-uqul, melatih akal fikiran untuk kritis dan serius dalam megkaji ilmu. Salah satu dari bentuk riyadlah ini adalah disiplin dalam belajar dan rajin (mempeng, jawa).

Riyadlah semacam ini telah menjadi icon PP. Al-Falah, Ploso, Mojo, Kediri. Di pondok ini santri dilatih untuk selalu rajin belajar, mengaji, dan muthala’ah. Hampir semua waktu adalah untukmengaji, tikrar al-durus, dan muthala’ah. Sistem pembelajarannya lebih menekankan pada diskusi (musyawarah) untuk menggali potensi pemikiran santri. Makanya tidak berlebihan kalua pondok ini terkenal dengan sebutan pondok yang tidak pernah tidur. Karena para santri silih berganti belajar mulai pagi hingga terbit pagi berikutnya, sehingga waktu malam hari pasti banyak santri yang tikrar al-durus dan muthala’ah hingga waktu fajar.

 

2.      Khidmah.

Sebagai santri di pondok pesantren pasti dididik dan dilatih untuk berkhidmah atau mengabdi. Suatu amal perbuatan yang dilakukan santri  secara ikhlas untuk kemaslahatan santri, kyai dan pondok. Khidmah ini bisa dilakukan santri dengan menjadi pengurus pondok, bisa dengan beraktifitas untuk kemakmuran pondok, misalnya dengan menanam pohon atau sayuran yang hasilnya diperuntukkan untuk santri dan pondoknya, bisa dengan melayani kyai dalam semua kebutuhannya, bisa dengan melayani dan membantu santri lainnya, bahkan bisa dengan menata sandal kyai dan santri, dan berbagai macam kegiatan yang berorientasi pada pengabdian untuk pondok dan santrinya.

 

Maka tidak heran kalua ada kata hikmah dari sebagian kyai “ Barang siapa yang mau berkhidmah maka kehidupannya menjadi barokah”  Hampir semua kyai-kyai yang penulis jumpai pada waktu nyantri di pondok pesantren pasti pernah berkhidmah.

Cerita yang penulis jumpai, ada seorang santri di Pon. Pes. “Fathul Ulum”, Kwagean, Krenceng, Pare, Kediri. Pada saat nyantri ia berkhidmah kepada Romo Kyai Abdul Hanan Ma’shum, dengan mengerjakan sawah. Hari-harinya adalah untuk menggarap sawah, ia mengaji hanya sisa waktu yang ada. Hal tersebut dilakukan sampai ia boyong (pulang kampung). Tak disangka-sangka, ketika sudah mukim di rumah, ia menjadi kyai dan memiliki banyak santri. Masih banyak crita dan kisah lain tentang santri yang kepentingan untuk berkhidmah melampui kepintingan untuk diri sendiri.

 

3.      Kesederhanaan.

Hidup sederhana adalah salah satu nilai yang ditanamkan kepada santri. Sehungga kesederhanaan telah melekat pada diri santri dan bahkan telah mempribadi dalam kehidupan sehari-hari. Pola hidup sederhana dan bersahaja ini telah dirumuskan menjadi tata tertib pondok. Karena santri yang memiliki tugas utama tafaqquh fiddin dengan menguasai berbagai macam ilmu, harus mau meninggalkan pola hidup yang serba ada, apalagi yang serba mewah. Sejarah para kyai ketika masih menjadi santri pasti mengutamakan ngaji dan kegiatan pondok lainnya. Ada yang ketika nyantri makannya mencukupkan dengan nasi jagung, juga ada yang ketika tidur tidak pernah menggunakan bantal yang empuk dengan pakain seadanya asal bisa memenuhi syarat untuk beribadah, dan ada juga yang selama nyantri tidak pernah masuk pasar dan toko, ia mencukupkan kebutuhannya apa yang telah disediakan oleh pondok.

 

4.      Kemandirian

Santri yang mondok akan jauh dari orang tua yang biasa melayani dan membantu dalam kehidupan dan kebutuhan sehari-harinya. Orang tua sengaja anaknya dimasukkan ke pondok pesantren agar menjadi orang yang berilmu, berkarakter, dan menjadi pribadi yang tangguh dan mandiri. Sebagai santri yang jauh dari orang tua, bahkan jauh pula dengan saudara, di pondok ia akan dilatih untuk mandiri dalam mengelola keuangan, mandiri dalam mengurus pakaian dan baran-barang miliknya, mandiri dalam memecahkan masalah yang berhubungan dengan kebutuhan kesehariannya, mandiri dalam mengelola waktu untuk belajar, mandiri dalam memenuhi tugas dan kewajiban sebagai santri, dan mandiri dalam mengambil keputusan pribadinya.

 

Dengan bekal dasar-dasar ilmu agama yang telah ia peroleh dan didukung dengan bimbingan kyai dan ustadz maka santri akan mudah untuk menentukan jalan hidup kedepan. Ia akan siap menjadi pribadi yang mapan ditenganh-tengan terpaan badai moderniasi dan globalisasi. Ia akan memegang prinsip dan akidah serta bersyariah dengan kuat di era informasi yang menawarkan berbagai macam idiologi dan budaya. Nilai kemandirian inilah yang menjadi nilai lebih pendidikan pondok pesantren disamping nilai-nilai tersebut di atas.

5.      Akhlak / adab.

Nilai dan wadzifah yang mesti ditanamkan oleh kyai kepada santri adalah akhlak / adab. Santri didalam kehidupannya di pondok pesantren selalu dikawal denga akhlak dan sopan santun. Nilai akhlak dan dan sopan santun ini ditanamkan diberbagai lini kegiatan dan kehidupan santri. Santri dididik untuk selalu menjunjung tinggi akhlak mulai berakhlak kepada Allah, kepada para nabi, para wali, dan orang-orang shalih, akhlak terhadap kyai, ustadz dan orang tua, akhlak terhadap sesama santri sampai akhlak terhadap diri sendiri. Pendidikan akhlak bagi santri ini meliputi akhlak dengan hati dan akhlak dengan sikap.

 

Akhlak ini menjadi sangat penting karena misi nabi Muhammad SAW. di muka bumi ini juga untuk menyempurnakan akhlak manusia. Oleh karena itu, kitab-kitab salaf karangan para ulama dengan berbagai disiplin ilmu yang ada pasti terintegrasi dengan materi akhlak. Sehingga tidak berlebihan kalau seoarang ulama mengatakan  :

 

الادب فوق العلم

                                                                      

                                                                                 “ Adab adalah lebih penting daripada ilmu”

 

Maqalah tersebut memberikan pengertian bahwa akhlak harus dikedepankan, karena orang yang tidak memiliki akhlak, meskipun berilmu, ia akan menjadi orang yang hina dan tidak bermartabat.

 

6.      Ibadah

Nilai yang juga sama-sama penting untuk dijalankan santri adalah ibadah. Santri dididik untuk selalu rajin melakukan ibadah. Shalat fardlu dengan berjamaah, shalat tahajud, shalat hajat, shalat dluha, shalat sunnah rawatib dan shalat-shalat sunnah lainnya, membaca al-Qur’an dan dzikir adalah merupakan wadzifah santri di pondok pesantren. Bahkan puasa sunnah dan puasa-puasa dengan tujuan khusus juga menjadi amalan santri yang juga telah menjadi wadzifah santri. Hal ini dimaksudkan agar santri lebih bisa taqarrub /dekat dengan Allah dan lebih cepat untuk memperoleh ilmu yang manfaat.

 

Ibadah ini juga dimaksudkan agar santri selalu ingat kepada Allah, bisa selalu menjaga niat yang benar dalam mencari ilmu, dan memperoleh pahala dari Allah SWT. Karena sebagian dari instrument orang sholih dan orang taqwa adalah rajin beribadah.

 

E.   KESIMPULAN DAN PENUTUP

       Santri adalah suatu komunitas masyarakat yang berdomisili atau nyantri pada satu atau  beberapa pondok pesantren. Karena itu mereka mempunyai wadzifah, tradisi, budaya dan kultur yang khas. Orientasi, pandangan hidup dan pola kehidupan mereka terbentuk lewat interaksi sosial antara sesama santri dan para pengasuh ( kyai ) yang menjadi panutan dan suri tauladan mereka.

 

       Pondok pesantren sebagai wadah / lingkungan mereka berinteraksi, sangat menentukan didalam membentuk kultur dan kepribadian para santri. Oleh karena itu selama sebuah pondok pesantren masih : (1) sebagai lembaga tafaqquh fiddin, (2) memenuhi lima unsur pembentukan pondok pesantren dan ditambah, (3) memiliki spesifikasi pesantren, (4) menanamkan nilai-nilai karakter santri , maka santri akan tetap eksis di era globalisasi dan transformasi ini. Bahkan mereka lebih cendurung menjadi manusia yang mandiri, peduli kepada lingkungannya dan peka terhadap perubahan social. Karena prinsip mereka kuat, mandiri dalam memenuhi kebutuhan pribadinya, berkarakter dan memiliki dasar pijakan yang jelas dan tegas, yakni menghamba, mengabdi dan  beribadah kepada Allah, tidak karena pamrih yang lain.

 

      Bentuk pesantren seperti inilah yang sangat mungkin untuk mempertahankan citra pesantren sebagai benteng terakhir untuk membendung pengaruh faham sekulerisme, pragmatisme dan hedonisme ( faham keduniawian ).

     

      Santri yang ideal adalah santri yang bisa mengikuti jejak santri salaf atau santri pendahulu. Jejak santri salaf telah terinternalisasi pada nilai-nilai karakter santri yang telah menjadi wadzifah (amalan tetap) santri. Nilai-nilai karakter santri tersebut meliputi : 1) Melakukan riyadlah, baik al-nafs maupun al-uqul, 2) Berkhidmah selama di pondok, 3) Berpola hidup sederhana dan bersahaja, 4) Mandiri dalam memenuhi kebutuhan dirinya sendiri, agar tidak membebani orang lain dan tidak thama’,   5) Menjunjung tinggi adab dan sopan santun kepada siapa saja, dan 6) Rajin beribadah

 

      Semoga para pengasuh pondok, para kyai dan para ustadz senantiasa diberi kekuatan oleh Allah SWT. didalam mengelola pesantren, dan tetap istiqomah didalam mengajar dan mengaji, mendidik dan membimbing santri. Demikian juga semoga para santri tetap sanggup untuk menjalankan nilai-nilai karakter santri dan meneruskan jejak santri salaf untuk  menjadi wadzifah kesehariannya, menjadi anak shalih-shalihah, dan barokah kehidupan mereka. Amin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Hari ini bertepatan tanggal 28 Oktober 2018 MA NU Banat Kudus memperingati  Upacara Hari Sumpah Pemuda yang ke-90 di Halaman MA NU Banat Kudus. 

Generasi muda hakikatnya  adalah peletak dasar tiang suatu bangsa. Dengan hal ini, tak pelak problematika kebangsaan para generasi muda patut disorot untuk, selanjutnya bagaimana peran  dan misi utama generasi muda yang sesuai dengan cita-cita dan budi luhur semestinya. Tepatnya 85 tahun yang lalu kita, sebagai bangsa Indoneasia telah melalui suatu peristiwa penting yang bernama “Sumpah Pemuda”.  Pada tanggal 28 Oktober 1928, di jalan Kramat Raya 106, Jakarta Pusat telah lahir sebuah gagasan besar yang seharusnya telah membentuk kehidupan bangsa Indonesia yang lebih baik saat ini. Saat itu, sebuah pertemuan yang dinamakan Kongres Pemuda II digelar. Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan-perwakilan tiap daerah dan dari berbagai latar belakang golongan yang berbeda-beda dengan alasan yang sangat mendasar karena untuk memenuhi kebutuhan saat itu. Dalam kongres ini pula lagu Indonesia Raya pertama kali dikumandangkan oleh W. R. Supratman di depan banyak orang peserta kongres.

Mari kita mengingat kembali akan teks sumpah pemuda

1.     Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

2.     Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

3.     Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Selesai upacara Sumpah Pemuda dilanjutkan lomba-lomba, diantaranya :

1. Lomba Paduan Suara bertema " Lagu Daerah "

2. Lomba Geguritan

3. Lomba Dakon

Selamat Hari Sumpah Pemuda ke 90 “ Bangun Pemuda Satukan Bangsa”

 

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Rabu, 14 November 2018 merupakan moment agenda kegiatan yang penting karena diadakan kegiatan Diklat Penyusunan Soal Higher Order Thinking Skills (HOTS) yang diikuti oleh semua Bapak dan Ibu Guru selama dua hari dari hari Rabu, 14 November 2018 sampai pada hari Kamis, 15 November 2018. Adapun isi materi hari pertama Sosialisasi SK Dirjen Pendis No. 3751 dan 5163 Tahun 2018 dan Sosialisasi SK Dirjen Pendis No 5164 Tahun 2018 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan RPP pada MAdrasah oleh Ibu Dra. Hj. Siti Zumaroh, M.Pd.

Hari kedua dalam pendidikan dan latihan penyusunan soal HOTS materi disampaikan oleh Bapak Drs. Bambang Hartono, M. Hum, diantaranya materi Penyusunan soal HOTS I dan penyusunan soal HOTS II serta expose hasil evaluasi penyusunan soal HOTS. Harapannya dengan kegiatan diklat penyusunan soal HOTS, Bapak dan Ibu Guru mampu menyusun soal HOTS dengan baik.

 

Gambar 1. Pembukaan Diklat Penyusunan Soal HOTS

 

Gambar 2. Hari kedua penyusuan soal HOTS di MA NU Banat Kudus

Gambar 3. Moment evaluasi penyusunan soal HOTS

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Minggu, 16 Juni 2019 Masih dalam bulan Syawal 1440 H halal bi halal diikuti seluruh peserta didik MA NU Banat Kudus dan seluruh Bapak dan Ibu Guru dan Tenaga Kependidikan, apel dalam rangka Halal Bi Halal di adakan di halaman MA NU Banat Kudus pada pukul 07.00 WIB, setelah sambutan yang di sampaikan Ibu Dra. Hj. Sri Roechanah, M.Pd.I. dilanjutkan musyafahah seluruh peserta didik kepada Bapak dan Ibu Guru serta Tenaga Kependidikan.

Pic 1. Apel dalam rangka Halal Bi Halal Bulan Syawal 1440 H.

Pic 2. Peserta Didik Apel dalam rangka Halal Bi Halal Bulan Syawal 1440 H

Pic 3. Peserta Didik khidmat mengikuti apel dalam rangka Halal Bi Halal Bulan Syawal 1440 H

Pic 4. Moment Musyafahah Peserta Didik dengan Bapak dan Ibu Guru dan Tenaga Kependidikan

 

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Rabu, 2 Januari 2019 MA NU BANAT KUDUS menyelenggarakan HARLAH KE 48 dengan rangkaian acara khataman Al Quran sebanyak 48 kali yang diikuti seluruh dewan guru dan seluruh peserta didik MA NU BANAT KUDUS. Di dirikan tahun 1 Januari 1971 dengan tema Melestarikan Gagasan Para Pendiri dan Berinovasi Tanpa Henti. JAYALAH MA NU BANAT KUDUS.

Pic 1

Pic 2

Pic 3

Pic 4


Madrasah Aliyah Banat NU Kudus is one of the educational institutions in which of all participants were female students. The presence of Madrasah Aliyah Banat NU Kudus as an effort to realize the ideals of its founders who want to raise the degree of women through education to produce forces women educators who have an intellectual and akhlaqul karimah accordance with the teachings of Islam Ahlussunnah Waljama'ah.

Google Maps

KONTAK KAMI

MA NU BANAT KUDUS
Jl. KHM. Arwani Amin, Krandon - Kudus, Jawa Tengah 59314
Telepon : 0291 - 443143 atau 08112716150
Fax : 0291 - 443143
Sms Information : 085866665439 (No Replay)