SEBANYAK 339 MURID MA NU BANAT KUDUS IKUTI PESANTREN MUKIM RAMADAN

MA NU BANAT KUDUS > Berita > SEBANYAK 339 MURID MA NU BANAT KUDUS IKUTI PESANTREN MUKIM RAMADAN
March 7, 2026 No Comments

KUDUS – Suasana malam di lingkungan MA NU Banat Kudus, Jawa Tengah, tampak berbeda pada Sabtu (7/3/2026).

Deretan ruang kelas yang biasanya menjadi tempat belajar kini disulap menjadi kamar sederhana bagi ratusan murid yang mengikuti program pesantren mukim Ramadan.

Di dalam ruangan itu, para murid menata perlengkapan tidur seadanya. Sebagian masih berbincang santai, sementara yang lain bersiap mengikuti rangkaian kegiatan malam.

Selama beberapa hari ke depan, mereka akan menjalani jadwal padat sejak pagi hingga malam. Program pesantren mukim tersebut digelar selama empat hari, mulai 7 hingga 10 Maret 2026, dan diikuti sekitar 339 murid kelas XI.

Kepala MA NU Banat Kudus, Sohibul Huda, M.Pd., mengatakan program ini telah dilaksanakan selama sekitar 35 tahun dan menjadi kegiatan wajib bagi murid kelas XI.

“Karena ini bulan suci Ramadan, kegiatan ini bertujuan mendekatkan anak-anak dengan agama. Mereka belajar mengkaji kitab, Al-Qur’an, dan hadis,” ujarnya, Sabtu (7/3/2026).

Selain penguatan keagamaan, kegiatan ini juga dirancang untuk melatih kemandirian murid. Menurutnya, kehidupan selama pesantren mukim mengajarkan para murid untuk mengatur waktu, disiplin, serta bekerja sama dengan teman.

“Kalau di rumah mungkin banyak yang dilayani. Di sini mereka belajar mandiri dan disiplin,” tambahnya.

Selama mengikuti pesantren mukim, para murid menjalani berbagai kegiatan keagamaan seperti tadarus Al-Qur’an, istighatsah, pengajian kitab, salat berjemaah, hingga kultum yang disampaikan secara bergantian oleh peserta.

Kegiatan dimulai sejak pagi hari dan berlanjut hingga malam setelah salat tarawih dengan kajian kitabnya yang meliputi: Risalah Al-MahidWashoya, serta Majmu’ah Tsalatsi Rasail.

Wakil Kepala Bidang Humas Madrasah, Khairun Nihlah, Lc., menjelaskan kegiatan mukim hanya diikuti murid kelas XI. Sementara kelas X dan XII tetap mengikuti pembelajaran kitab tanpa menginap di madrasah.

Menurutnya, program tersebut terus mengalami penyesuaian dari tahun ke tahun. Jika dahulu para murid memasak sendiri, kini kebutuhan konsumsi telah disediakan melalui layanan katering.

Meski demikian, semangat utama kegiatan tetap sama, yakni membentuk karakter religius sekaligus menumbuhkan kedisiplinan murid.

“Harapannya anak-anak bisa lebih terbiasa dengan ibadah, disiplin, dan memiliki karakter yang lebih baik,” ujarnya.

Bagi para murid, mengikuti pesantren mukim menjadi pengalaman tersendiri. Ketua OSIS periode 2025–2026, Farichah Maulida Dwi Adsila, mengaku kegiatan tersebut cukup menantang, terutama bagi murid yang terbiasa tinggal di rumah.

“Awalnya memang butuh adaptasi karena jadwalnya sangat padat dari pagi sampai malam,” ujarnya.

Namun di balik jadwal yang padat itu, ia mengaku banyak manfaat yang dirasakan, terutama dalam melatih kedisiplinan dan produktivitas.

“Yang paling terasa itu disiplinnya. Kita dilatih untuk memanfaatkan waktu dengan kegiatan yang bermanfaat,” imbuhnya.

Hal senada disampaikan Ketua Panitia Pesantren Mukim, Cahaya Ova Shalihah. Ia menyebut salah satu kegiatan yang paling dinantikan peserta adalah agenda pemantapan karakter pada hari terakhir kegiatan.

Kegiatan tersebut dikemas dalam bentuk renungan malam bersama alumni madrasah yang diharapkan mampu memperkuat motivasi dan karakter murid.

“Harapannya setelah pulang dari sini, teman-teman bisa lebih mantap dan tidak mudah goyah,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kementerian Agama Kabupaten Kudus, Agus Siswanto, menjelaskan kegiatan tersebut mengacu pada Keputusan Dirjen Pendis Kementerian Agama Republik Indonesia Nomor 1290 Tahun 2026 tentang petunjuk teknis pembelajaran pada bulan Ramadan.

Menurutnya, pembelajaran Ramadan bertujuan meningkatkan keimanan, ketakwaan, serta akhlak mulia murid melalui berbagai kegiatan yang bermakna.

“Kami menyambut baik pelaksanaan pesantren Ramadan di madrasah. Program seperti ini efektif untuk penguatan spiritual, pembiasaan ibadah, sekaligus pendidikan karakter murid,” katanya saat dikonfirmasi.

Ia menambahkan, beberapa madrasah di Kabupaten Kudus juga memiliki karakteristik berbasis pesantren sehingga model pembelajaran seperti ini tidak hanya diterapkan di MA NU Banat Kudus.

Melalui kegiatan tersebut, diharapkan para murid tidak hanya menjadi pribadi yang saleh secara ritual, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari. (Kontributor: Mr.KR)

Sumber: murianews.com

Tags :

Share:

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *