MENJAGA DAN MELESTARIKAN WARISAN MUASSIS

MA NU BANAT KUDUS > Services > Service Style 1 > MENJAGA DAN MELESTARIKAN WARISAN MUASSIS

MENJAGA DAN MELESTARIKAN WARISAN MUASSIS

Kontributor: M. Kholilur Rohman

Adanya suatu lembaga pasti mempunyai sosok pendiri yang menjadi penentu prinsip, tujuan, dan budaya atau tradisi. Mereka bukan hanya sekadar “penggagas ide”, tetapi juga orang yang berjuang dengan mencurahkan tenaga, pikiran, bahkan hidupnya demi keberlangsungan lembaga tersebut. Oleh karena itu, merawat dan mempertahankan warisan para pendiri bukanlah sekadar tindakan moral, melainkan juga tanggung jawab yang bersifat spiritual dan historis.

 

Al-Qur’an dan Sunnah memberikan pelajaran kepada umat Islam untuk menghormati para pendahulu yang saleh, meneladani perjuangan mereka, serta melestarikan nilai-nilai mulia yang mereka tinggalkan.

Firman Allah ﷻ dalam QS. At-Taubah: 100 yang berbunyi:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ

“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” (QS. At-Taubah: 100).

Ayat ini menegaskan keutamaan generasi pendiri (as-sabiqun al-awwalun) dan perintah untuk mengikuti mereka dengan cara yang baik (ittiba’ bi ihsan), mencakup juga untuk melanjutkan perjuangan mereka, menjaga warisan mereka, dan tidak menyimpang dari prinsip yang telah mereka tanamkan.

Dikatakan dalam maqolah arab:

Firman Allah ﷻ dalam QS. At-Taubah: 100 yang berbunyi:

المحُاَفَظَةُ عَلَى القَدِيْمِ الصَالِحِ وَالأَخْذُ باِلجَدِيْدِ الأَصْلَحِ

“Menjaga tradisi terdahulu yang baik, serta mengambil hal baru yang lebih baik.”

Dalam lingkungan lembaga, madrasah, atau organisasi kemasyarakatan warisan pendiri tidak hanya terbatas pada struktur bangunan fisik, tetapi juga semangat perjuangan, ketulusan, dan ilmu pengetahuan. Hal ini mengajarkan kepada kita agar banyak bersyukur atau berterima kasih atas jasa para muassis.

Sebagaimana hadits dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ  bersabda :

Firman Allah ﷻ dalam QS. At-Taubah: 100 yang berbunyi:

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللهَ “Orang yang tidak berterimakasih kepada orang (lain) berarti ia tidak bersyukur kepada Allah”  (HR. Tirmidzi)

Hadits di atas mengisyaratkan bahwa menghargai jasa para muassis merupakan bagian dari syukur kepada Allah, karena melalui mereka, Allah menyalurkan kebaikan dan ilmu.

Hadits yang lain menjelaskan:

Firman Allah ﷻ dalam QS. At-Taubah: 100 yang berbunyi:

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ  الحديث

“Barang siapa memulai suatu sunnah yang baik dalam Islam, maka baginya pahala atas perbuatannya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya.” (HR. Muslim)

Para muassis adalah orang-orang yang menanamkan sunnah hasanah, seperti mendirikan lembaga pendidikan dan dakwah, Oleh karena itu, menjaga warisan mereka sama artinya dengan meneruskan sunnah baik dan juga mendapatkan balasan pahala seperti yang mereka peroleh.

Kiat-kiat Menjaga dan Melestarikan Warisan Muassis

Fauzul Hakim, M.Pd.I dalam pengajian tematik (Kamis, 16/10/2025) memberikan beberapa nasehat kepada kita agar kita selalu menjaga dan melestarikan warisan para muassis madrasah Banat, diantara nasehatnya:

  • H Masda’in Amin mendirikan madrasah Banat pada tahun 1940 dengan cikal bakal RA bertujuan mencetak kader muslimah yang siap memimpin umat.
  • Pendirian madrasah dipicu oleh kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi perempuan, yang kemudian berkembang menjadi berbagai jenjang pendidikan: RA Banat NU (1940), MI Banat NU (1952), MTs NU Banat (1957), dan MA NU Banat (1971).
  • Tujuan secara umum pendirian madrasah Banat diantaranya:
  1. mencetak kader muslimah yang cerdas dan cakap
  2. meningkatkan derajat perempuan melalui pendidikan yang sesuai dengan ajaran Islam
  3. membekali perempuan dengan pengetahuan agama, keterampilan, dan pemahaman tentang agama dan negara dan
  4. menghasilkan tenaga pendidik perempuan yang intelektual dan berakhlak mulia.
  • Dikarenakan usia beliau tidak panjang, maka estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh K.H Ma’shum AK, salah satu muassis yang kiprah kepemimpinannya banyak mendapatkan apresiasi dari berbagai kalangan. Beliau dengan dedikasi yang tinggi serta kedisiplinan yang terus digalakkan membuat madrasah Banat menjadi madrasah idola perempuan.
  • Melalui kedisiplinan yang dicontohkan para muassis inilah yang perlu kita jaga dan lestarikan, karena tidak semua madrasah memiliki kedisiplinan yang tinggi dan mampu menerapkannya seperti Banat.
  • Jangan merasa lebih hebat dari para pendiri madrasah atau muassis, kita harus selalu mengingat maqolah arab:

Firman Allah ﷻ dalam QS. At-Taubah: 100 yang berbunyi:

الفَضْلُ لِلْمُبْتَدِي وَاِنْ اَحْسَنَ المُقْتَدِي

Keutamaan selalu milik orang yang memulai meski generasai selanjutnya lebih baik”.

Artinya, sehebat apapun seorang murid, ia tidak akan mampu melebihi kemulyaan seorang guru, kehormatan dan kemulyaan seorang guru tak akan pernah sirna oleh popularitas seorang murid.

Dalam nadhom alfiyyah juga disebutkan:

Firman Allah ﷻ dalam QS. At-Taubah: 100 yang berbunyi:

وَهْوَ بِسَبْقٍ حَائِزٌ تَفْضِيْلَا مُسْتَوْجِبٌ ثَنَائِيَ الْجَمِيْلَا

Bait ini menegaskan bahwa disaat Imam Ibnu Malik mempromosikan alfiyyahnya yang lebih populer dan banyak diminati, namun beliau tetap menunjukkan keutamaan Ibnu Mu’thi karena beliau lahir terlebih dahulu dan juga lebih dahulu mengarang alfiyah mengenai ilmu nahwu.

  • Kiat-kiat menjaga dan melestarikan warisan muassis diantaranya:
  1. Jangan melupakan identitas kita, kelebihan yang menonjol jangan sampai pudar, seperti kedisiplinan yang sudah berjalan dengan baik perlu dilestarikan
  2. Meningkatkan kualitas pendidikan kita, seperti program yang ada di MA NU: program boarding harus bisa menonjolkan salafnya, program tahfidz harus ditonjolkan keunggulannya, peminatan keagamaan (PK) harus diunggulkan kitabnya, IPS juga harus diunggulkan segi sosialnya serta program bahasa pun juga harus ditonjolkan keunggulan berbahasanya.
  3. Meningkatkan kepercayaan masyarakat agar berbondong-bondong menitipkan putrinya bersekolah di Banat, khususnya bapak ibu guru yang memiliki anak perempuan agar di masukkan ke Banat sebagai percontohan di masyarakat.
  4. Meningkatkan rasa bangga dalam hati menjadi bagian dari madrasah Banat serta mengajak karib kerabat untuk bergabung memasukkan putrinya ke madrasah Banat.
  • Selain dari pada amaliyah lahiriyah dalam menjaga dan melestarikan warisan muassis, maka dibutuhkan juga amaliyah batiniyahnya, seperti mendoakan murid-murid di sepertiga malam melalui sholat tahajud, istighotsah serta berziarah mendoakan para muassis. Semoga dengan menjaga dan melestarikan warisan muassis, kita semua senantiasa mendapatkan berkah dan manfaatnya.amin

*Disarikan dari pengajian tematik (Kamis, 16/10/2025) yang disampaikan oleh beliau Bapak KH. M. Fauzul Hakim, M.Pd.I, dan dari sumber lainnya.